Ket Gambar: Udhin Palisuri

Sungguminasa ——- Perawakannya tinggi, rambutnya gondrong, tatapan matanya tajam, setajam makna puisinya yang lantang disuarakan di depan ribuan pasang mata hadirin yang mengikuti ritual peresmian revitalisasi Balla’ Lompoa dan penerimaan piagam dari Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk pengangkatan bangunan bersejarah itu di pelataran Museum Balla’ Lompoa, Sungguminasa, Gowa, Rabu (9/3).

Dialah Udhin Palisuri, sastrawan, budayawan, wartawan yang mendapat undangan khusus dari Bupati Gowa H Ichsan Yasin Limpo,SH.MH untuk mempersembahkan puisinya menandai momen penting ini. Penyair ribuan puisi yang dikenal dengan julukan “Jenderal Puisi” ini tampil memukau, diiringi sayup-sayup suara seruling yang dimainkan Cucut, seniman koreografer Sulawesi Selatan.

Hujan yang pada hari-hari sebelumnya beruntun mengguyur Kota Sungguminasa, Rabu siang itu seolah mahfum dengan perhelatan budaya yang sedang berlangsung. “Lihat, betapa besarnya kekuasaan Allah, doa rakyat Gowa hari ini terkabul, hujanpun tidur,” sela Sang Jenderal sebelum mentas.

Giliran namanya disebut oleh pembawa acara untuk tampil, Sang Jenderal yang mengenakkan kostum tradisional bangsawan Bugis-Makassar melangkah penuh kharisma dari tiap ke tiap tangga menuruni Balla’ Lompoa, menuju pelataran di depan panggung kehormatan para tamu dan undangan, bagaikan seorang Raja yang sedang turun dari istana untuk menemui rakyatnya. “Gowa adalah Sejarah, Gowa membuat Sejarah,” pekik Sang Jenderal, membuka judul puisinya.

Bak menapaktilasi sejarah kejayaan Kerajaan Gowa, Sang Jenderal yang tak akan pernah pensiun, ini mengulas prosesi kehadiran Raja di Gowa dari Tomanurung Karaeng Bainea, seperti penggalan puisinya berikut ini :

“Awalnya Tomanurung
Karaeng Bainea turun dari kayangan
Di Bontobiraeng menatap bulan purnama
Cahaya jatuh dari langit, bukit Tamalate, Taka’bassi
Paccalayya dan Kasuwiang Salapang duduk tafakkur
Menjelma sinarnya menjadi puteri yang cantik
Bermahkota emas, bertahtakan intan berlian
Memakai kalung, gelang dan rantai yang berkilau
Kemudian menjadi Raja Gowa yang pertama
Membangun istana di bukit Tamalate
Merebut kejayaan di panggung dunia
Gowa, keagungan yang perkasa
Gowa, kejantanan dari timur
Gowa sombangku
Gowa titah raja
Gowa matahari peradaban
Gowa berselimut adat dan tradisi
Gowa tumbuh di pelukan zaman
Gowa menatap puncak sejarah
Gowa masa silam dan masa depan
Gowa bertahta kekuasaan di hati rakyat, untuk rakyat, berdaulat rakyat
Gowa dalam nafas Toraja, Bugis, Mandar dan Makassar……..”

Sang Jenderal, aktor layar lebar yang pernah bermain dalam film “Di Ujung Badik,” “Senja di Pantai Losari,” “Wolter Monginsidi” dan sejumlah film serta sinetron lokal dan nasional, ini tak luput dengan pesan penting untuk rakyat Gowa yang disampaikan atas nama raja-raja Gowa, dari Batara Guru, Karaeng Bayo, Tomanurung Bainea sampai Raja Gowa terakhir Andi Idjo Daeng Mattawang Karaeng Laloang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aididdin Tu Menanga ri Jongaya, berikut kutipannya :

“Jagalah kehormatan Gowa
Memegang teguh janji, mendengar pesan leluhur, pelihara keindahan Gowa
Gowa jejak sejarah. Gowa dalam sejarah. Gowa membuat sejarah
La’lang sipuea payung kebesaran kerajaan Gowa
Barudayya panji kebesaran kerajaan Gowa
Salokoa mahkota emas kerajaan Gowa
Accera Kalompoang membersihkan hati kita, jiwa kita, roh kita
Benda pusaka Gowa cermin kemaharajaan kerajaan Gowa
Situs dan cagar budaya milik dunia
Jangan merusak persaudaraan sejati

Di Balla’ Lompoa hari ini, kita menghargai sejarah
Kembali kepada kearifan dan cinta mengurai makna kebenaran
Kabupaten Gowa bangkit memberi arti kepada sejarah
Kebesaran kerajaan Gowa spirit membangun Kabupaten Gowa
Kehormatan Gowa, kehormatan kita, kehormatan bangsa dan negara
Kabupaten Gowa gelombang nurani terus bergetar dalam ruh kehidupan

Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku
Jangan biarkan Indonesia bersedih, Indonesia menangis
Musibah dan bencana datang silih berganti
Di parlemen dan birokrasi orang saling menghujat
Indonesia kehilangan jati diri
Korupsi menjadi tradisi
Dalam era reformasi dan otonomi daerah
Kecerdasan butuh ketekunan dan keuletan
Kekerasan tak pernah meraih kemenangan
Kemenangan direbut dalam sukma mata hati
Kabupaten Gowa menggeliat dengan indah
Membangun Gowa dengan tulus dan ikhlas
Bukan saatnya menabur benih pertikaian
Jangan mengotori hati, jangan membenci
Menjaga ruh dan semangat Gowa tercinta.

Sujud di sajadah taqwa
Mengurai ayat-ayat Tuhan
Lafadzkan doa membaca dzikir
Selamat bekerja Bupati Gowa tercinta
Selamat untuk seluruh rakyat Gowa
Balla Lompoa pusaka sejarah dari timur
Kerajaan Gowa tercatat di halaman sejarah
Pembangunan Gowa, kita yang membuat sejarah.

Berkat kepiawaiannya menggugah bathin lewat untaian syair puisi, tahun 2010 Sang Jenderal berpuisi sampai ke negeri “Jiran” Malaysia dan mendapat penghormatan dari Perdana Menteri (PM) Malaysia Dato’ Sri Moch Najib Tun Abdul Razak yang juga putra Gowa.

Ceriteranya begini, kata Sang Jenderal, saat Malaysia sedang rame-ramenya dihujat di Indonesia karena berbagai persoalan, saya mendapat undangan dari seorang sahabat untuk membacakan puisi dalam suatau acara, kebetulan dihadiri Perdana Menteri Malaysia. “Saya tak mengira puisi saya bisa membuat Dato’ terharu, ketika saya katakan, Malaysia dihujat, Makassar marah… Dato’ pun langsung memberi aplaus dan begitu turun dari panggung saya disalami lalu dipeluk. Menurut sahabat saya, hal seperti itu tak biasa dilakukan Perdana Menteri terhadap seniman setempat,” kenang Sang Jenderal. [Tim]

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

81 − = 74