Pandam VII Wirabuana Ajar Petani Gowa

Sungguminasa—- Pangdam VII WIrabuana, Mayjend TNI Bachtiar berbagi ilmu sistem pertanian terpadu dengan 557 kelompok tani yang ada di Gowa. Didampingi Bupai Gowa, H. Ichsan Yasin Limpo kegiatan berlangsung dalam tatap muka Pangdam VII Wirabuana beserta team ahli dan kelompok tani dalam rangka Sosialisasi Teknologi Padi Pertanian Terpadu untuk Mendukung Ketahanan Pangan di Kab Gowa berlangsung di Baruga Karaeng Galesong (21/8).

Menurut Alumnus Akademi Militer Magelang ini perhatian besar akan pertanian di sebabkan ancaman krisis pangan di tahun 2018. “ Kita memiliki jumlah penduduk yang besar 250 juta jiwa, jumlah penduduk yang besar jika tidak diimbangi dengan ketersediaan pangan yang cukup maka akan menjadi kerawanan. Jika terjadi kerawanan pangan berdampak langsung terhadap Ketahanan Nasional. Pertanian menjadi salah satu produk pangan yang tingkat kebutuhannya tinggi. Impor yang besar akan beras sebesar : 31.145 ton harus kita kurangi bahkan hilangkan dengan kemampuan memenuhi kebutuhan pangan kita.” saat me memulai pembahasannya.

Dalam pemaparannya Pangdam VII Wirabuana, memberikan 5 (lima) strategi yaitu; meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) petani, peningkatan sarana dan prasarana pertanian, kerjasama sinergis dan kolaborasi anatara seluruh stakeholders pertanian, melakukan pemetaan tanaman unggulan serta menghindari sistem tengkulak.

Salah satu poin penting dalam meningkatkan SDM petani melalui pendampingan maksimal dari para Peyuluh Pertanian Lapangan (PPL). “ Harus ditekankan disini PPL yang benar yang bisa betul-betul mendampingi, mengajari serta mengarahkan petani di lapangan. Jadi jangan sampai petani yang dikumpul dan mendatangi PPL namun PPL yang berkeliling di semua kelompok tani untuk mengajar dan mendampingi.” tegas Mayjend ini.

Sistem pertanian terpadu yang diperkenalkan oleh Bachtiar merupakan sistem pertanian terbaru yang telah dikembangkan oleh para ahli dengan nama SRI (Systema Of Rice Intensification). SRI merupakan suatu teknologi budidaya padi yang menitik beratkan penghematan sumber daya, terutama air. Metode ini bisa digabungkan dengan cara bercocok tanam secara organik.

Tempat yang sama Bupati Gowa, H. Ichsan Yasin Limpo mengatakan petani di Gowa bersedia untuk mengaplikasikan sistem ini menggangantikan Intensifikasi Pertanian berbasis organic (IPAT BO) yang selama ini digunakan.” Sistem ini akan kita ujicoba jika hasilnya lebih baik dan unggul maka kami tidak keberatan menggantikan sistem pertanian yang digunakan sekarang. Bahkan jika ini dilihat lebih tepat maka kita akan membuat pilot project di semua kecamatan yang ada di Gowa.” Jelas orang nomor satu di Gowa ini.

Bahkan Bupati Gowa ini berpesan khusus kepada petani Gowa,” Petani Gowa merupakan pahlawan tanpa jasa penjaga perut orang Gowa dan orang Indonesia. Mari kita satukan persepsi dan tujuan berjuang menuju ketahanan pangan kita.” tambahnya

Budidaya padi organik dengan metode SRI

Pola pertanian padi SRI organic merupakan perpaduan anatara budidaya padi SRI yang pertamakali dikembangkan di Madagaskar, dengan metode budidaya padi organik dalam praktek pertanian organik. Sistem ini akan meningkatkan fungsi tanah sebagai media tumbuh dan sumber nutrisi tanaman. Dengan sistem SRI organik daur ekologis akan berlangsung dengan baik karena memanfaatkan mikroorganisme tanah secara natural. Pada gilirannya keseimbangan ekosistem dan kelestarian lingkungan akan sellalu terjaga. Di sisi lain, produk yang dihasilkan dari metode ini lebih sehat bagi konsumen karena terbebas dari paparan zat kimia berbahaya.

Melalui sistem ini kesuburan tanah dikembalikan sehingga daur-daur ekologis dapat kembali berlangsung dengan baik dengan memanfaatkan mikroorganisme tanah sebagai penyedia produk metabolit untuk nutrisi tanaman. Melalui metode ini diharapkan kelestarian lingkungan dapat tetap terjaga dengan baik, demikian juga dengan produk akhir yang dihasilkan, yang notabene lebih sehat bagi konsumen karena terbebas dari paparan zat kimia berbahaya.
Sistem ini memiliki keunggulan karena tanaman akan hemat air (selama pertumbuhan memberikan air max 2 cm), hemat biaya (hanya membutuhkan benih 5 kg per hektar), hemat waktu (ditanam bibit muda 5-12 hari setelah semai dan waktu panen yang lebih awal), produksi meningkat (dibebrapa tempat mencapai 11 ton perhektar) dan ramah lingkungan (mengurangi penggunaan pupuk kimiawi).

Diharapkan dengan mengaplikasikan sistem ini maka hasil produksi pertanian di Gowa sebesar 352.887 ton pertahun dengan metode IPAT-BO yang merupakan penyumbang 11% skala nasional dapat semakin meningkat menuju ketahanan pangan dan swasembada pangan.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

85 − 84 =