Pemkab Gowa-Pemprov Sulsel Bahas Kebun Raya Malino

Pembahasan Kebun Raya Malino
Pemkab Gowa dan Pemprov Sulsel bahas bersama rencana pengembangan Kebun Raya Malino. -foto/humas-

SUNGGUMINASA—-Rencana pengembangan wisata Malino dibahas dalam rapat dan pemaparan antara Bupati Gowa bersama Tim Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan yang didampingi konsultan PT Architila Matratama Konsultan. Ekspose berlangsung di Ruang Rapat Bupati, Senin (30/1).

“Rapat ini merupakan tindak lanjut pemikiran Wapres Pak JK dan Gubernur Sulsel yang ingin menjadikan Malino sebagai destinasi wisata baru di Indonesia. Terkait Kota Raya Malino dalam pembicaraan sebelumnya diserahkan sepenuhnya ke Dinas BLHD Provinsi,” ujar Adnan Purichta mengawali rapat ini.

Konsultan BLHD Provinsi Sulsel yang diketuai oleh Prof Tommy Eisenring memberi gambaran konsep dasar objek wisata. Menurut konsultan objek wisata seharusnya memenuhi konsep antraksi (daya tarik), amenitas (fasilitas penunjang) dan aksesibilitas.

Selain itu, konsultan juga melakuka zonasi dan klasifikasi objek wisata Malino untuk memetakan penyebaran tempat wisata di Malino. “Konservasi yang direncanakan ini merupakan pengelolaan pemanfaatan lahan yang tidak mengganggu ekosistem,” jelas konsultan.

Pengembangan objek wisata eksisting (Air Terjun Biroro, Ketemu Jodoh, Parang Bugusi). Serta penambahan objek wisata baru seperti Aun-alun Kota Malino, wisata edukasi peternakan sapi perah dan peternakan kuda, hingga wisata bunga crysant.

Kadis BLHD Provinsi Sulsel, Andi Hasbi Nur menjelaskan gambaran untuk menjadikan Malino daerah konservatif masih sangat luas. “Sekarang waktu tepat kita menyatukan pikiran karena apa yang ada di kepala kita saat ini masih mengawang-awang,” ujar Hasbi dihadapan beberapa pimpinan SKPD dan Camat Tinggimoncong, Andry Mauritz MK yang turut hadir.

Asisten Bidang Perekonomian, Syukri memberi penjelasan jika Kebun Raya Malino merupakan gerakan tidak sekedar program. “Malino Raya merupakan sebuah gerakan besar dimana semua bagian mengambil peranan, seperti Dinas Pertanian, Dinas Peternakan, Dinas Koperasi, Dinas Kehutanan dan sebagainya,” ujarnya.

Lebih lanjut dalam ekspose ini, Adnan Purichta menyetujui masukan yang diberikan konsultan terkait pembuatan alun-alun. “Kalau saya sebaiknya alun-alun yang jadi prioritas dan dibuatnya di dekat hutan pinus, karena orang-orang ke Malino tujuan utamanya ke hutan pinus. Yang pasti harus ada spot selfie untuk pengunjung yang akan membantu mempromosikan tempat wisata lewat medsos,” jelas orang nomor satu di Gowa ini.

Adnan juga menegaskan pemerintah daerah menunggu kejelasan pembagian tanggung jawab. “Kami ingin mengetahui mana tugas Pemprov mana tugas Pemkab Gowa agar bisa kami persiapkan,” tambah mantan anggota DPRD Provinsi Sulsel.

Malino sendiri memiliki posisi yang strategis sebagai tempat wisata. Jarak yang tidak terlalu jauh dari Kota Makassar dan udara Malino yang sejuk menjadi daya tarik utama pelancong kesana, ditambahkan dengan hasil alam dan bunga yang menjadi incaran pendatang.

Tahun ini, bahkan secara infrastruktur Malino mulai dibenah kembali. Jalan poros Malino yang sebelumnya dua bahu jalan diperlebar menjadi empat bahu jalan. Sehingga akses menuju Malino yang semula dua jam diharapkan bisa dipercepat hanya menjadi 45 menit melalui jalan alternatif di Pattallassang. Rencananya fasilitas ini akan ditambahkan dengan rest area yang bisa digunakan sebagai tempat persinggahan sebelum tiba di Malino.(wrh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 20 = 27