Istana Balla Lompoa

Refleksi Kejayaan Masa Lalu

Rumah itu berdiri angkuh di jantung kota Sungguminasa Ibukota Kab Gowa. Meski dikelilingi bangunan berarsitektur modern, salah satu artefak kerajaan Gowa itu memancarkan aura kemegahan.

Waktu menunjukkan pukul 10.00 wita. Kondisi sekitar Ballompoa terlihat berubah. Lantai dasar Balla Lompoa yang terbuat dari marmer sehingga menyerupai taman, tangga-tangga yang terdapat di halaman Balla Lompoa, kolam, dan tulisan besar yang baru saja dibangun dalam kawasan ini, semakin mengundang hormat dan khidmat yang dalam.

Apalagi posisi balla lompoa yang sudah terangkat setinggi tiga meter sehingga sejajar dengan istana tamalate yang persisi berdiri di samping istana tersebut. Maklum saja, Bangunan simbol kerajaan Gowa terakhir itu baru saja mendapat sentuhan revitalisasi dengan dana Rp23 miliar.

Dalam kekiniannya, Ballalompoa beralih fungsi menjadi museum budaya dan menjadi tempat penyambutan tamu-tamu penting daerah. Menurut Kabag Humas dan Protokoler Gowa arifuddin Saeni, Pemkab Gowa melakukan revitalisasi kawasan Balla Lompoa di atas lahan seluas 2,6 hektare (ha) sehingga Istana Peninggalan kerajaan Gowa tersebut diproyeksikan menjadi rumah kayu terbesar di dunia.

Menurutnya, revitaliasi ini bertujuan untuk mengaktualisasikan kembali jejak kejayaan masa lampau. Apalagi Kerajaan Gowa pernah mencapai masa keemasan sebagai kerajaan terbesar di belahan timur nusantara dan masih memiliki rekaman peradaban sejarah yang tersimpan dalam situs budaya Balla Lompoa atau Istana Kerajaan.

Dua menegaskan, revitalisasi ini tidak akan mengubah istana yang telah ada, kecuali menambah arsitek baru yang menjadi pelengkap untuk aktivitas budaya di kawasan tersebut, dan sudah saatnya kawasan ini mendapat perhatian sesuai perkembangan, yang ada dengan tidak meninggalkan nilai budaya.

Dengan panjang 52 meter dan lebar 20 meter Ballalompoa yang berati rumah kebesaran mulanya dididrikan tahun 1936, masa pemerintahan Raja Gowa 35, I Mangngi-Mangngi Daeng Matutu KaraengBontonompo bergelar Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin. Balla Lompoa dibangun sebagai pusat pemerintahan kerajaan Gowa sekaligus tempat kediaman raja, saat pusat kerajaan Gowa dipindahkan dari Jogayya ke Sungguminasa .

Hanya dua raja yang menempati istana ini. Setelah kematian Raja Gowa ke 35, pemegang tahta selanjutnya adalah Andi Ijo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Kadir Aidir. Dalam masa pemerintahannya terjadi perubahan sistem dari swapraja menjadi swatantra. Impliksinya, beliau menjadi Raja Gowa terakhir dan saat itu Andi Ijo Karaeng Lalolang diangkat menjadi Bupati pertama.

Di istana ini dapat dijumpai peninggalan Raja Gowa pertama, Karaeng Tomanurung Bainea seperti Salekoa berupa mahkota emas seberat 1768 gram, kalung emas, dan gelang tangan berbentuk naga dua pasang serta benda-benda lainnya yang didominasi emas. Dapat pula dijumpai peralatan perang, tujuh buah naskah akara lontara, sililah kerajaan Gowa, sampai alquran yang konon ditulis oleh ulama besar Syekh Yusuf.

Selain benda tersebut masih terdapat benda lain peninggalan Karaeng Bayo. Untuk penyucian benda-benda ini, setiap tahunnya diadakan upacara accerak kalompoang bertepatan dengan idhul adha.

Rencananya, pagi ini, Rabu (9/3) pukul 09.00 Wita, peresmian akan dilakukan Gubernur Sulsel yang disaksikan ribuan tamu yang diundang Pemkab Gowa. Dari perhelatan ini sekira 3.000 lembar undangan disebar Pemkab.S elain Gubernur Sulsel dan pejabat-pejabat Pemprov serta DPRD Sulsel, juga dihadiri Dirjen Pengembangan Destinasi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI.

Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Gowa, Rimba Alam Pangeran mengatakan, peresmian ini ditandai dengan gelar budaya menyangkut lintas sejarah budaya Gowa. Juga, akan digelar pergantian pasukan jaga museum yang mulai resmi menjaga kompleks museum dan seterusnya. Di kawasan ini akan dijaga 30 pasukan tubarani museum secara bergantian.

‘’Serangkaian peresmian wajah baru museum ini juga menjadi satu kebanggaan tersendiri karena kita meraih rekor MuRI (Museum Rekor Indonesia) untuk kategori pengangkatan museum pertama secara manual di Indonesia. Insya Allah, piagam MuRI ini akan diserahkan langsung Direktur MuRI, Jaya Suprana,’’ terang Rimba.(herni amir)

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 + 1 =