Menengok Sentra Produksi Sayuran di Dataran Tinggi Gowa


Ket Gambar: Petani di Desa Kanreapia, Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa, Minggu (13/5) memanen tanaman wortel. -Foto/Humas-

Jalan Desa Terbuka, Kesejahteraan Petani Meningkat

Gowa —- Matahari baru beranjak di wilayah pegunungan Desa Kanreapia, Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel), udara dingin tak menghalangi para petani bergelut di tengah ladang sejak pagi, sepanjang jalan desa terlihat kesibukan petani yang sedang memanen kubis, tomat, wortel dan berbagai macam sayuran.

Suasana di desa sentra penghasil sayur mayur yang tak jauh dari kota dingin, Malino, itu terlihat sangat berbeda dari kondisi beberapa tahun silam, kuda yang dulunya menjadi sahabat petani sebagai “pateke” atau sarana pengangkut hasil panen, kini telah tergusur oleh “kuda besi”, sepeda motor dan truk lalu lalang menerobos jalan desa ke ladang petani.

“Kami bersyukur, sejak Bupati Gowa Ichsan Yasin Limpo, jalan desa mendapat perhatian dan sekarang hasil panen tak sulit diangkut, hanya dikumpul di tepi kebun mobil pembeli yang datang menjemput,” ujar Syukri, Sekretaris Desa (Sekdes) Kanreapia, kepada tim Humas Pemda Gowa yang dipimpin Andi Tenri Tahri, Minggu (13/5).

Desa Kanreapia adalah salah satu wajah desa penghasil sayur-mayur di Kabupaten Gowa yang cukup maju, desa dengan penduduk 1.008 kepala keluarga, itu terletak sekitar 70 km dari Sungguminasa, Ibukota Kabupaten Gowa, tujuh dusun di desa tersebut berkembang setelah memiliki infrastruktur jalan pengerasan. Tidak ada lagi kebun milik warga yang tidak bisa dijangkau kendaraan setelah setiap tahun diprogramkan pembuatan jalan desa, semua warga mendukung dan tak seorang pun yang menuntut ganti rugi saat jalan desa itu dibuka. “Tahun 2011 dibuat pengerasan sepanjang 1 kilometer dengan biaya Rp 117 juta dan 2012 direncanakan pengerasan di Dusun Silanggayya yang menghubungkan dusun Parangboddong,” kata Sekdes yang terangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) golongan II/a sejak tahun 2010 itu.

Bupati Gowa, Ichsan Yasin Limpo mengatakan, petani di Gowa sangat rajin, tanahnya subur, hanya saja selama ini ketika sayur dan buah-buahan sudah dipanen, biasanya tertinggal membusuk karena harus menunggu angkutan masuk ke desa, kalau pun ada, keuntungan lebih banyak diserap untuk ongkos angkut sebab mobilnya dicarter, akibatnya hasil yang di dapat petani sangat tipis, sebab harus menutupi tingginya biaya produksi dan pemasaran, pupuk serta obat-obatan. “Bersyukur jalanan sudah baik dan angkutan umum mulai lancar masuk ke desa, dan inilah yang kita harapkan supaya kesejahteraan petani bisa meningkat,” ujarnya.

Kondisi Jalan

Tahun 2005, kondisi jalan di Gowa belum banyak mengalami perubahan dari tahun sebelumnya yaitu 2.218.00 km (kilo meter), berkat upaya pemerintah, panjang jalan telah mencapai 2.687,19 km. Jalan tersebut menjadi wewenang negara 23,906 kilometer; provinsi 194,33 kilometer dan sisanya sebanyak 2.468,96 kilometer merupakan wewenang pemerintah kabupaten. Diakui bahwa masih ada kondisi jalan rusak berat 47,27 persen, namun kalau dilihat perbandingan terhadap total panjang jalan pada tahun 2009, jalan dengan kondisi baik bertambah 29,10 persen, sebaliknya jalan dengan kondisi rusak berkurang 7,63 persen.

Sebelum akses jalan desa terbuka, petani selalu diperhadapkan pada risiko kerugian, hasil panen tertumpuk membusuk lantaran berhari-hari menunggu angkutan, seperti yang pernah dialami Suhardi, petani tomat di desa tetangga Kanreapia, Desa Bulubalea, Kecamatan Tinggi Moncong. “Dulu kami sering merugi karena hasil panen terlalu lama ditumpuk sehingga banyak yang rusak, selain itu biaya untuk mengangkut sampai ke kota juga sangat mahal, sekarang sudah enak, pembeli yang datang bahkan petani di sini juga sudah banyak yang merangkap sebagai pengumpul dan pedagang antarpulau,” katanya.

Menurut Suhardi, menanam tomat hasilnya lumayan, pada bulan kedua mulai panen, dengan lahan yang hanya 0,25 ha mampu menghasilkan sekitar 5 ton selama masa panen tiga bulan kalau menjual sendiri ke pasar terbebani, lebih baik dijual dilokasi Rp 3.000 per kg, ini pun sudah menguntungkan apalagi pada musim menjelang hari raya bisa mencapai Rp 5.000 per kg.

Sejak beberapa tahun terakhir petani tak lagi terbentur soal permodalan, apalagi dengan adanya bantuan PNPM untuk optimalisasi lahan yang diberikan dalam bentuk dana sebanyak Rp 56 juta untuk dibagikan kepada satu kelompok tani (terdiri 25 orang), di sini ada 36 kelompok tani dan secara bergilir tiap kelompok akan diberikan, jelas Syukri yang juga menambahkan bahwa wanita di desa ini tak mau ketinggalan, mereka ikut berusaha didanai salah satu bank melalui Simpan Pinjam Khusus Perempuan, semua ini menutup pintu bagi masuknya pengijon yang biasanya meminjamkan modal dengan pengembalian berlipatganda.

Gowa sangat terkenal sebagai daerah penghasil sayur-mayur, ada beberapa desa di kecamatan yang terletak di dataran tinggi menjadi sentra produksi, diantaranya di Kecamatan Tombolo Pao, Tinggi Moncong dan Bungaya. Budaya bertani masyarakat semakin maju, dulunya hanya cara tradisional, sekarang mereka mengadopsi teknologi budidaya yang dihasilkan para peneliti dari berbagai perguruan tinggi, terutama dari Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin (Unhas).

Masyarakat di dataran tinggi sudah terbiasa membudidayakan kentang, kubis, bawang daun dan buncis. Hasil panen tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal di kota tetangganya, Makassar, namun di pasarkan langsung sampai ke daerah Kalimatan, Maluku dan Papua, melalui pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar dan pelabuhan transito Parepare. “Saya memasarkan sayur-mayur dari desa ini ke Samarinda dan Bontang, Kalimantan Timur, sekali kirim sekitar 14 ton dengan biaya pengiriman Rp 4,2 juta sampai ke tempat tujuan,” kata Ismail, petani yang juga pedagang antarpulau dari Desa Buluballea.

Produksi sayur-mayur Gowa pada tahun 2009 mengalami peningkatan produksi antara lain bawang merah dari 51,2 ton menjadi 72 ton kacang panjang 150 ton menjadi 2.948 ton, tomat dari 940 ton menjadi 1.669,6 ton, begitu pula komoditi sayuran lainnya.

Dilihat dari lapangan usaha, sebagian besar penduduk Gowa bekerja di sektor pertanian, sekitar 42,82 persen dari jumlah penduduk yang bekerja. Sektor pertanian memberi kontribusi terhadap PDRB (produk domestik regional bruto) tahun 2009 sekitar 45,65 persen dengan nilai kontribusi atas dasar harga konstan sekitar Rp 832 miliar. Sedangkan pendapatan perkapita masyarakat Gowa, tahun 2005 sebesar Rp 3.693.650, meningkat drastis tahun 2009 sebesar Rp 6.981.294. Ini menunjukkan bahwa dalam kurun waktu empat tahun telah terjadi peningkatan perkapita lebih Rp 3.287,644 atau sebesar 89 persen, rata-rata 17,8 persen per tahun.

Tradisi “Tesang”

Sejak transportasi menjadi lancar petani semakin giat berusaha untuk mengejar panenan dua kali setahun dengan hasil yang menggembirakan. Bahkan di sini tumbuh tradisi usaha tani yang disebut “Tesang” atau bagi dua hasil. Pemilik lahan dan penggarap sama-sama memodali usaha penanaman dan hasil panen akan dibagi dua . “Tidak ada dominasi pemilik lahan, semua menyetor modal, penggarap pun demikian dan hasilnya dibagi dua, ” kata Syukri.

Sayangnya, perkembangan usaha tani yang maju lewat “tesang” ini berdampak negatif pada dunia pendidikan, karena anak-anak yang sudah terbiasa mengikuti orang tuanya bertani dan sudah mampu mengolah lahan sendiri, juga ikut “tesang” sehingga banyak yang malas bersekolah dan lebih memilih untuk mencari uang.

Dampak ini sebenarnya sudah diantisipasi oleh Pemerintah Kabupaten Gowa dan Bupati Ichsan Yasin Limpo yang sangat konsen pada perkembangan dunia pendidikan telah memproteksi pendidikan gratis dengan Peraturan Daerah (Perda) yang dapat memidanakan orang tua anak jika tidak menyekolahkan anaknya pada usia wajib belajar sembilan tahun.

Menurut Syukri, sebagai aparat pemerintah di desa ini, kondisi tersebut menjadi tantangan, kami harus berupaya terus memberi pemahaman kepada orang tua siswa melalui berbagai pertemuan di Balai Desa. Tidak ada alasan untuk tidak menyekolahkan anak-anak karena di sini sudah ada dua sekolah dasar (SD) dan satu Madrasah Ibtidaiyah (MI) serta satu Sekolah Menengah Pertama (SMP). “Ternyata, kesejahteraan petani yang meningkat juga ada dampak negatifnya, sekarang kami harus menyadarkan warga agar memperhatikan pendidikan anak-anaknya, demi masa depan mereka,’ tandasnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × 1 =