Unicef Penelitian Perundungan di Gowa

Kunjungan UNICEF
Sekda Gowa, H Muchlis usai menandatangani kerjasama dengan Yayasan Indonesia Mengabdi. -foto/humas-

SUNGGUMINASA—-Unicef melalui Yayasan Indonesia Mengabdi (YMI) akan melaksanakan penelitian aksi model pencegahan perundungan (bullying) di dua SMP di Kabupaten Gowa. Rencana penelitian dituangkan dalam nota kerjasama antara Pemkab Gowa dan YMI.

Penandatangan kesepahaman ini diwakili oleh Sekda Gowa, H Muchlis dan Ketua YMI, Dr Nurdin Noni. Kedua belah pihak ini bertemu dan bertandatangan di Ruang Kerja Sekda Gowa, Selasa (1/11).

Menurut Sekda Gowa, penelitian ini sangat bermanfaat dan mendukung gerakan sekolah ramah anak atau kekerasan anak yang baru-baru ini di launching oleh Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan.

“Baru-baru ini kita memang meresmikan program sekolah tanpa kekerasan. Gerakan ini berlangsung serentak di Sulsel. Pelaksanaannya penelitian ini akan mendukung keberlangsungan program ini,” urai Muchlis.

Bahkan keterpilihan kedua sekolah ini sekaligus dapat dijadikan sebagai bahan TOT untuk sekolah lain. Bisa menjadi sekolah rujukan, sekolah lainnya.

Penelitian sendiri akan berlangsung selama satu tahun di dua sekolah. Enam bulan pertama di SMP Negeri 5 Pallangga dan enam bulan berikutnya di SMP Negeri 3 Sungguminasa.

Menurut Nurdin Nori, banyak manfaatnya yang ingin dicapai dari kerjasama dan penelitian ini. “Diharapkan akan berujung pada pengembangan program kerja daerah di bidang perlindungan anak melalui Tim Komite Pengarahan serta mendorong pertumbuhan titik anti kekerasan di Gowa berbasis sekolah,” jelasnya.

Model penelitian dijelaskan oleh
Ketua Tim Penelitian, Dr Farida Aryani. “Penelitian kami diawali dengan baseline untuk melihat potensi-potensi bully apa yang terjadi disekolah tersebut. Setelah melihat, mengumpulkan potensi ini kita akan melakukan intervensi dengan jumlah model kegiatan. Kita ingin mengukur apakah dengan model yang kita lakukan ini akan menghilangkan praktek bullying di sekolah,” jelasnya.

Lebih lanjut sekolah yang dipilih bukanlah sekolah unggulan yang ada di Gowa. Pertimbangannya sekolah unggulan biasanya sudah melakukan praktek intervensi mencegah terjadinya perundungan di sekolahnya.

Selain Gowa penelitian sejenis juga dilakukan di Makassar. “Kami memilih Gowa dan Makassar sebagai lokasi penelitian di Sulsel. Salah satu persyaratan daerah tempat berlangsung penelitian adalah memiliki tempat perlindungan anak. Ada tempat pelaporan kekerasan pada anak di dua tempat ini,” tambah Farida.

Turut hadir dalam pertemuan ini Kepala Dinas Sosial, Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Dinsosnakertrans) Kabupaten Gowa, H Syamsuddin Bidol, Kepala Bidang Menengah Dinas Pendidikan, Olahraga dan Pemuda (Dikorda) KabupatenGowa,  H Bachtiar serta Child Protection Specialist Unicef, Emilie Minnick. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × 1 =