Dubes Afsel Kunjungi Gowa

[GOWA] Duta Besar (Dubes) Afrika Selatan (Afsel) untuk Indonesia, Dr. Noel N Lehoco mengunjungi Museum Istana Balla Lompoa di Sungguminasa, Kabupaten Gowa pada Rabu (23/2). Lehoco didampingi Bupati Gowa, H.Ichsan Yasin Limpo menyaksikan berbagai benda pusaka peninggalan Kerajaan Gowa. Sebelumnya, Dubes bersama rombongan berziarah di Makam Syekh Yusuf yang merupakan ulama dan pejuang kebebasan bagi rakyat Afrika asal Gowa.

Kunjungan Lehoco di bekas pusat Kerajaan Gowa menurutnya sudah menjadi tradisi bagi setiap pejabat Afsel yang bertugas di Indonesia, sebab di sinilah tempat asal Syekh Yusuf Al Makassari, pahlawan yang berjasa memperjuangkan kebebasan bagi rakyat Afsel.

Lehoco dijemput secara adat di Balla Lompoa, sejumlah pejabat Gowa ikut mendampingi, diantaranya Wakil Bupati Gowa Abd Razak Badjidu, Ketua DPRD Gowa Anshar Usman, Kapolres Gowa AKBP Totok Listiyanto, Dandim1409/Gowa Letkol (ARM) Bambang Irawan dan Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Gowa Andi Rimba Alam Pangeran.

Dubes Afsel ini sangat terkesan melihat benda-benda peninggalan sejarah kebesaran Gowa masa lalu, dikesempatan itu Bupati Ichsan Yasin Limpo dan kerabat kerajaan mengajak Lehoco memasuki salah satu ruangan tempat penyimpanan mahkota kerajaan yang terbuat dari emas murni (Salokoa). Ruangan ini tidak terbuka untuk umum, melainkan hanya untuk tamu-tamu khusus atau upacara kebesaran kerajaan. Rombongan Dubes ini dijamu dengan suguhan makanan tradisional khas Bugis-Makassar.

Jejak Syekh Yusuf

Syekh Yusuf  lahir 3 Juli 1626 di Kabupaten Gowa. Sewaktu kecil bernama Muhammad Yusuf, setelah menjadi ulama dan ahli tasauf, namanya menjadi Syekh Yusuf Abdul Muhasin Hidayatullah Tajul Khalawati al Makassari, menantu dari Raja Gowa ke-14,  Sultan Alauddin.

Karena kegigihannya melawan penjajah Belanda, ia diasingkan ke Afrika Selatan (CapeTown) dan meninggal dunia dalam usia 73 tahun pada tanggal 23 Mei 1699, dimakamkan di daerah pertanian Zanvliet di Distrik Stellenbosch, Afrika Selatan.

Atas permintaan Raja Gowa, Abdul Djalil, 5 April 1795, makam Syekh Yusuf dipindahkan  ke Lakiung, tak jauh dari masjid Katangka. Makam tersebut dikeramatkan dan selalu ramai diziarahi masyarakat, dijuluki  sebagai Tuanta Salamaka, tokoh penyelamat.

Selain sebagai ulama terkenal, Syekh Yusuf adalah pahlawan di dua negera. Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar pahlawan nasional dan di negeri tempat ia diasingkan, Afrika Selatan, Syekh Yusuf juga ditetapkan sebagai pahlawan nasional yang berjuang membebaskan kaum tertindas dan menyebarkan Islam di negeri Pantai Gading tersebut. Ia juga sangat dikagumi oleh Nelson Mandela, pejuang kemanusiaan asal Afsel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

43 − 39 =